Gosip Licious – Aktris dan penulis Aurelie Moeremans mengungkapkan pengakuan jujur yang menyentuh saat membahas proses penulisan buku memoarnya, Broken Strings. Ia menegaskan bahwa buku tersebut tidak lahir dari kondisi mental yang sepenuhnya pulih. Sebaliknya, Aurelie menulis ketika luka batin itu masih terasa nyata. Pengakuan ini membuka sisi manusiawi dari sosok publik yang kerap terlihat kuat di hadapan kamera. Ia tidak berusaha memoles cerita agar terdengar indah. Justru, ia memilih kejujuran sebagai pijakan utama. Dalam setiap halaman, Aurelie menuangkan emosi yang belum sepenuhnya reda. Dengan begitu, Broken Strings menjadi cermin dari proses bertahan, bukan sekadar kisah kemenangan atas masa lalu.
Proses Menulis sebagai Terapi Emosional
Bagi Aurelie, menulis bukanlah akhir dari proses pemulihan, melainkan bagian dari terapi itu sendiri. Ia mengakui bahwa setiap kata yang dituliskan menjadi ruang aman untuk memindahkan memori kelam yang selama ini terpendam. Perlahan, beban emosional yang dipikul bertahun-tahun mulai terasa lebih ringan. Menurutnya, proses ini tidak selalu nyaman. Ada momen ketika kenangan pahit kembali menyeruak. Namun, justru di situlah ia belajar berdamai. Dengan menuliskannya, Aurelie merasa memiliki kendali atas cerita hidupnya sendiri. Ia tidak lagi membiarkan trauma mendikte dirinya. Narasi itu kini berada di tangannya. Proses panjang tersebut menjadikan Broken Strings bukan sekadar buku, tetapi medium penyembuhan yang lahir dari kejujuran emosional.
Luka Lama yang Tak Serta-merta Hilang
Meski peristiwa menyakitkan itu telah berlalu bertahun-tahun, Aurelie mengakui bahwa lukanya tidak serta-merta menghilang. Ia masih memikul sisa-sisa trauma yang kadang muncul tanpa peringatan. Pengakuan ini memperlihatkan bahwa pemulihan mental bukanlah garis lurus. Ada hari-hari ketika seseorang merasa kuat, namun ada pula saat rapuh kembali hadir. Aurelie memilih untuk tidak menyangkal kenyataan tersebut. Ia menyadari bahwa menyembuhkan diri membutuhkan waktu dan kesabaran. Dengan berbagi pengalaman ini, ia ingin menyampaikan pesan penting bahwa luka batin tidak selalu terlihat. Di balik senyum dan pencapaian, seseorang bisa saja masih berjuang secara diam-diam. Kejujuran inilah yang membuat kisahnya terasa dekat dan relevan bagi banyak orang.
Keberanian Membuka Diri kepada Publik
Keputusan Aurelie untuk mempublikasikan Broken Strings bukanlah langkah yang mudah. Ia menyadari bahwa membuka kisah personal berarti membuka diri terhadap penilaian publik. Namun, ia memilih keberanian daripada diam. Ia ingin menunjukkan bahwa berbagi cerita bukan tanda kelemahan. Sebaliknya, itu adalah bentuk keberanian untuk jujur pada diri sendiri. Dengan menampilkan sisi rapuhnya, Aurelie berharap pembaca merasa tidak sendirian. Banyak orang memendam luka serupa tanpa tahu harus berbagi kepada siapa. Melalui buku ini, ia ingin menciptakan ruang empati. Sebuah ruang di mana pengalaman pahit tidak dihakimi, melainkan dipahami. Langkah ini menegaskan posisinya bukan hanya sebagai figur publik, tetapi juga sebagai manusia yang berproses.
Menyusun Narasi untuk Mengambil Kendali Hidup
Dalam Broken Strings, Aurelie tidak sekadar menceritakan kejadian, tetapi menyusun ulang makna hidupnya. Ia menata ulang potongan pengalaman yang sebelumnya terasa kacau. Dengan menuliskannya, ia seolah mengambil kembali kendali atas jalan hidupnya. Trauma yang dulu membungkam kini berubah menjadi suara. Proses ini memberinya perspektif baru tentang dirinya sendiri. Ia belajar melihat masa lalu bukan sebagai beban semata, tetapi sebagai bagian dari perjalanan yang membentuknya. Narasi yang ia bangun menjadi sarana refleksi, sekaligus penguatan identitas. Melalui buku ini, Aurelie menegaskan bahwa seseorang berhak menulis ulang ceritanya sendiri, tanpa harus terjebak pada luka yang pernah ada.
Pesan Harapan bagi Mereka yang Sedang Berjuang
Lewat pengakuannya, Aurelie ingin menyampaikan pesan yang sederhana namun kuat. Pemulihan tidak harus menunggu segalanya terasa baik-baik saja. Justru, proses itu bisa dimulai di tengah kekacauan. Ia berharap kisahnya memberi keberanian bagi orang lain untuk menghadapi luka mereka, dengan cara masing-masing. Menulis, berbicara, atau sekadar mengakui rasa sakit adalah langkah awal yang berarti. Aurelie menegaskan bahwa tidak apa-apa merasa belum pulih sepenuhnya. Yang terpenting adalah terus bergerak, sekecil apa pun langkahnya. Broken Strings menjadi bukti bahwa dari kepedihan, seseorang bisa menciptakan makna baru dan menemukan harapan yang perlahan tumbuh.