Gosip Licious – Nama Pesulap Merah kembali menjadi sorotan, bukan karena aksi sulap atau kontroversi panggung, melainkan karena urusan rumah tangga yang semakin panas. Setelah go public sebagai pelaku poligami, sang pesulap yang bernama asli Marcel Radhival itu menghadapi gelombang komentar pedas dari warganet. Namun, kali ini yang paling diserang justru istri kedua, Ratu Rizky Nabila. Banyak komentar yang tidak hanya menyakitkan, tetapi juga menuduhnya sebagai pelakor hingga disebut-sebut menjadi penyebab istri pertama depresi sampai meninggal dunia. Karena itu, Pesulap Merah akhirnya merespons lewat unggahan Instagram pada 12 Februari 2026. Ia terlihat tidak bisa lagi menahan emosi, sebab tuduhan itu dianggap sudah melewati batas. Di momen ini, publik melihat sisi lain dirinya yang lebih manusiawi dan penuh tekanan.
Tuduhan Pelakor Muncul Setelah Warganet Menyerbu Akun TikTok Istri Kedua
Awalnya, hujatan itu muncul dari kolom komentar akun TikTok milik Ratu Rizky Nabila. Salah satu pertanyaan yang viral datang dari akun @mufista2 yang menulis, “Benarkah kakak pelakor yang menyebabkan istri pertama depresi hingga meninggal dunia?” Ratu sebenarnya sudah menjawab dengan kalimat yang cukup menohok namun tetap terkontrol, “Jika asumsimu seperti itu, lalu apa yang kau harapkan?” Akan tetapi, warganet lain justru semakin memaksa. Bahkan, akun @dianarhma.3696 meminta klarifikasi lebih panjang, seolah-olah Ratu wajib menjelaskan hidupnya kepada semua orang. Di titik ini, suasana komentar berubah menjadi pengadilan publik. Karena itu, Pesulap Merah merasa perlu turun tangan. Ia melihat serangan itu bukan lagi kritik, melainkan tuduhan yang bisa menghancurkan nama baik seseorang tanpa bukti yang jelas.
“Baca Juga : Ammar Zoni Emosi di Sidang Kasus Narkoba, Tunjuk Wajah Saksi Polisi”
Pesulap Merah Menegaskan: Istri Kedua Bukan Pelakor, Apalagi Pembunuh
Dalam unggahan Instagramnya, Pesulap Merah menjawab tuduhan itu dengan tegas dan emosional. Ia menulis kalimat yang terasa seperti ledakan amarah yang sudah lama ditahan: “Istri kedua saya BUKAN PELAKOR, apalagi PEMBUNUH.” Pernyataan ini menunjukkan bahwa Marcel tidak ingin isu ini terus berkembang liar. Selain itu, ia menegaskan bahwa Ratu Rizky Nabila tidak pernah punya niat menjauhkan dirinya dari istri pertama. Bahkan, ia menyebut istrinya adalah perempuan baik yang sejak awal memahami situasi rumah tangga mereka. Di tengah budaya komentar yang sering kejam, respons ini terasa seperti perlawanan. Sebab, Marcel seolah ingin mengatakan bahwa tidak semua hal bisa dinilai dari potongan video atau narasi sepihak di media sosial. Di sisi lain, pernyataan itu juga menandakan betapa besar tekanan mental yang mereka hadapi.
Klaim Restu dan Prinsip Ratu yang Disebut Tidak Ingin Merusak Rumah Tangga
Pesulap Merah juga mengungkap hal yang cukup mengejutkan publik. Ia menyebut bahwa sejak awal, Ratu Rizky Nabila memiliki prinsip yang tidak biasa. Marcel mengatakan, jika sampai dirinya dan almarhumah istri pertama bercerai, maka Ratu juga siap bercerai. Bagi sebagian orang, pernyataan ini mungkin terdengar dramatis. Namun, di sisi lain, ini bisa dibaca sebagai bentuk “batas moral” yang Ratu pegang. Ia tidak ingin dianggap merebut, apalagi merusak. Marcel seolah ingin memperlihatkan bahwa pernikahan mereka bukan hasil tipu-tipu, melainkan keputusan rumit yang penuh pertimbangan. Meski begitu, publik tetap punya hak untuk menilai. Tetapi, setidaknya, klarifikasi ini membuat orang sadar bahwa kisah rumah tangga tidak sesederhana label pelakor yang dilempar begitu saja.
“Baca Juga :Baim Wong Klarifikasi Isu Operasi Plastik di Korea: “Itu Steam Cell, Bro!””
Cerita Perawatan Istri Pertama Menjadi Bagian yang Menggugah Emosi
Bagian paling emosional dari klarifikasi Pesulap Merah adalah ketika ia menyebut peran Ratu dalam masa sakit istri pertamanya. Ia mengatakan, Ratu justru selalu mengingatkan dirinya untuk merawat almarhumah yang harus bolak-balik rumah sakit. Ini adalah detail yang jarang muncul dalam narasi warganet. Bahkan, Marcel menyebut Ratu sempat menawarkan kulitnya untuk dicangkokkan kepada almarhumah saat operasi ketiga. Dalam konteks human interest, kisah ini membuat situasi terasa jauh lebih kompleks. Sebab, orang yang dituduh pelakor ternyata digambarkan sebagai sosok yang ikut membantu dan peduli. Tentu saja, publik tetap bisa mempertanyakan banyak hal. Namun, cerita ini membuat satu hal menjadi jelas: tidak semua yang terlihat di permukaan adalah kebenaran. Kadang, ada sisi kemanusiaan yang tidak pernah viral.
Warganet dan Budaya Menghakimi: Ketika Komentar Bisa Jadi Luka Seumur Hidup
Kasus ini juga membuka diskusi lebih luas tentang budaya menghakimi di internet. Banyak orang merasa bebas berkata apa saja, karena tidak bertatap muka langsung dengan korban. Padahal, tuduhan seperti pelakor atau pembunuh bukan sekadar hinaan, tetapi bisa menjadi luka yang sangat dalam. Selain itu, komentar semacam ini juga berpotensi menjadi fitnah yang merusak kehidupan seseorang. Dalam kasus Pesulap Merah, serangan diarahkan pada Ratu Rizky Nabila, seolah-olah ia wajib menanggung seluruh kesedihan masa lalu. Padahal, kematian seseorang adalah peristiwa kompleks yang tidak bisa disederhanakan menjadi satu tuduhan. Menurut saya, publik memang boleh kritis. Namun, tetap harus ada batas empati. Sebab, di balik layar ponsel, ada manusia yang bisa hancur hanya karena komentar yang ditulis tanpa pikir panjang.