Gosip Licious – Isu perceraian Nia Ramadhani dan Ardi Bakrie sebenarnya tidak muncul dari pernyataan resmi, melainkan dari percakapan publik yang bergerak liar di media sosial. Dalam sepekan terakhir, rumor itu menyebar cepat, seolah menjadi kebenaran baru hanya karena terus dibahas. Menariknya, rumor ini terasa “meyakinkan” bagi sebagian orang karena dibungkus dengan narasi emosi, potongan video lama, dan spekulasi yang tampak masuk akal. Padahal, dalam dunia digital, sesuatu yang ramai belum tentu benar. Justru, di sinilah masalahnya dimulai. Ketika publik haus drama, sebuah cerita kecil bisa membesar tanpa kontrol. Dan ketika nama besar seperti Nia disebut, algoritma ikut mendorongnya naik. Akibatnya, gosip berubah menjadi badai, bahkan sebelum ada klarifikasi.
Bantahan Asisten yang Menjadi Penanda Kabar Itu Hoax
Di tengah panasnya perbincangan, bantahan datang dari orang terdekat Nia. Theresa Chandra Wienathan, sahabat sekaligus asisten yang akrab disapa Tere, menegaskan kabar perceraian itu tidak benar. Melalui pesan singkat kepada media pada 3 Februari 2026, ia menyebut tidak ada gugatan cerai dan kondisi rumah tangga Nia-Ardi baik-baik saja. Pernyataan ini penting karena menjadi penyeimbang di tengah rumor yang sudah telanjur berputar. Namun, seperti yang sering terjadi, klarifikasi biasanya datang terlambat dibanding ledakan gosip. Meski begitu, bantahan tersebut tetap memberi arah yang jelas: publik sedang menghadapi informasi palsu. Selain itu, klarifikasi ini juga menunjukkan satu hal, bahwa orang-orang terdekat memilih meredam drama, bukan menambahnya.
“Baca Juga : Jule Klaim Masih Didekati Pengiklan Meski Diboikot Publik”
Akar Masalahnya Ternyata dari Utas Curhatan Netizen di Threads
Yang membuat rumor ini unik adalah sumber awalnya. Isu perceraian itu disebut bermula dari sebuah utas akun Threads @dian_saras_sutrisno pada 8 Januari 2026. Dalam utas tersebut, si pemilik akun membuka dengan permintaan maaf kepada Nia Ramadhani, seolah membawa pengakuan yang sangat berat. Ia menulis bahwa tidak ada niat menyakiti Nia maupun anak-anaknya, serta mengklaim pernah bertemu Ardi Bakrie sebanyak lima kali. Kalimat-kalimatnya terasa personal, emosional, dan dibuat dengan nada penyesalan. Karena itulah, utas tersebut cepat menarik perhatian. Selain itu, gaya tulisannya membuat pembaca merasa sedang membaca “pengakuan nyata.” Padahal, di era digital, narasi seperti ini bisa saja benar, bisa juga hanya rekayasa. Namun, publik telanjur terpancing.
Narasi “Aku Tidak Merebut” yang Membuat Publik Semakin Percaya
Dalam utas itu, akun tersebut juga menegaskan bahwa ia tidak berniat merebut Ardi Bakrie dari keluarga. Bahkan, ia menulis bahwa dirinya rela melepas harga diri dan nama baik, serta mengakui ini sebagai aib. Kalimat seperti ini bekerja sangat efektif di media sosial, karena memberi kesan seseorang sedang jujur dan berani menanggung konsekuensi. Selain itu, pengakuan yang dibalut rasa bersalah sering dianggap sebagai tanda kebenaran. Namun, masalahnya, publik jarang menanyakan bukti. Orang lebih mudah percaya pada emosi daripada data. Di titik ini, isu perceraian mulai terbentuk bukan karena fakta, melainkan karena cerita yang terasa dramatis. Dan ketika cerita itu menyentuh ranah keluarga, terutama keluarga selebritas, warganet seolah merasa punya hak untuk menilai, menghakimi, bahkan “mendoakan” perceraian.
“Baca Juga : Isu Perceraian Nia Ramadhani dan Ardi Bakrie Berawal dari Curhatan Netizen”
Modifikasi Konten YouTube Membuat Rumor Terlihat Seperti Fakta
Setelah utas itu viral, cerita tidak berhenti di Threads. Justru, rumor makin membesar ketika berbagai akun YouTube memodifikasi narasi tersebut. Mereka memasukkan potongan video lawas Nia Ramadhani yang menangis saat memeluk putri sulungnya, Mikhayla Zalindra Bakrie. Potongan itu lalu ditempelkan ke narasi utas, seakan menjadi bukti bahwa rumah tangga mereka sedang runtuh. Di sinilah manipulasi digital bekerja dengan sangat halus. Video lama yang konteksnya berbeda bisa disulap menjadi “petunjuk” baru. Selain itu, judul clickbait dan thumbnail dramatis mempercepat penyebaran. Akibatnya, banyak orang yang tidak membaca sumber awal, namun langsung percaya karena melihat video emosional. Padahal, jurnalisme yang sehat selalu memisahkan antara dokumentasi lama dan peristiwa baru.
Dampak Rumor untuk Perempuan, Ibu, dan Anak yang Ikut Terseret
Isu perceraian bukan sekadar gosip. Bagi seorang perempuan, terutama ibu, rumor seperti ini bisa menjadi beban psikologis yang berat. Nia Ramadhani bukan hanya figur publik, tetapi juga manusia yang punya keluarga, anak, dan kehidupan yang nyata. Ketika rumor terus diputar, bukan hanya Nia yang terdampak, tetapi juga anak-anaknya yang suatu hari bisa membaca semuanya. Selain itu, budaya digital sering kali tidak memberi ruang aman untuk perempuan. Mereka lebih mudah disalahkan, lebih cepat dihujat, dan lebih sering dijadikan target. Di sisi lain, publik jarang memikirkan efek jangka panjangnya. Saya pribadi melihat ini sebagai pengingat bahwa empati itu penting. Kita bisa mengikuti berita selebritas, tetapi tetap harus menjaga batas. Sebab, di balik layar, ada perasaan yang bisa terluka.